DUA
Keegoisanku Merubah Segalanya (Ray P.O.V.)
Aku memutar lagi rubikku menjadi
bentuk yang berantakan. Lalu aku membenarkannya kembali ke bentuk semula. Sudah
berulang kali aku memutar-mutar rubikku, merasa bosan dengan keheningan yang
menyelimuti kami. Sesekali aku melirik kesal ke arah dua sahabatku yang duduk
agak jauh di hadapanku. Mereka juga sedang main rubik, sama sepertiku. Bukan,
kurasa mereka tak sepenuhnya bermain rubik. Sesekali Acha meminta bantuan Deva
untuk memberitahu cara menyelesaikan rubik itu. Aku tahu, Acha memang tak
mengerti cara bermain rubik. Dan aku pun tahu, Deva sangat jago memainkan rubik
ini. Tapi bisakah mereka tak menghiraukanku?
Aku bosan. Aku jenuh. Aku bangkit
dari dudukku dan berjalan mendekati mereka.
“Ada permainan lain?” tanyaku
memecah keheningan.
“Sebentar, Ray, lagi tanggung.
Terus ini gimana lagi, Dev?” Acha langsung berpaling ke Deva.
Jujur. Aku kesal dengan perlakuan
Acha tadi. Entah datang darimana rasa kesal itu, yang jelas aku benar-benar
kesal dan tak tahan oleh semua ini.
“Tinggal diputer gini aja, Cha,
terus samain warnanya.” Deva menunjukkan caranya dengan memakai rubik lain.