Sebenarnya, aku tak ingin menduga apa-apa. Aku tak ingin memiliki pemikiran buruk atau negatif tentangmu. Makanya aku diam. Aku tak ingin bertanya lebih dahulu. Aku tak ingin, walau sebenarnya aku ingin tahu.
Kedua bolamata itu masih menatapku. Bolamatamu yang selalu memancarkan sinar kehangatan untukku. Tapi pagi ini, aku melihat sinar yang berbeda. Bukan sinar kehangatan. Dan aku tak mengerti arti sinar dari kedua bolamatamu itu.
Beberapa menit diisi kekosongan. Hanya dapat menatap satu sama lain dalam diam. Kemudian kamu bergerak terlebih dahulu. Tanganmu meraih sesuatu di dalam kolong mejamu dan mengeluarkannya.
"Dari Kinan." Kamu menyodorkan barang itu padaku. Sebuah kotak kecil.
Seperti kotak bekal makanan... batinku dalam hati.
Aku mengambilnya ragu. Mataku masih tak lepas dari matamu.
"Karena dia ngeliat lo tadi dipanggil Bu Esti ke depan, jadi dia nitip ini lewat gue." katamu.
Aku masih menatapmu. Tapi kamu tak kunjung menatapku. Kamu tetap menunduk memandang pinggiran meja kayumu. Seolah menghindar dari tatapan mataku.