SATU
Ukiran Persahabatan
Acha meniup serbuk-serbuk penghapus yang mengotori lembar sketsanya. Ia tersenyum puas setelah melihat lukisan yang tersembunyi di balik serbuk penghapus tersebut. Lukisan yang selalu ingin membuatnya selalu tersenyum.
“Yeeyy… sebelas lawan delapan!” teriak seorang lelaki yang tengah berjalan mundur menghindari seorang sahabatnya di lapangan basket sana. Ia baru saja memasukkan angka ke dalam ring basket setelah melewati pertahanan sahabatnya yang begitu ketat.
Acha melirik sekilas kedua makhluk di lapangan sana. Senyumannya masih tersungging di bibir tipisnya.
“Ayooo Dev, jangan mau kalah dari Raaay…” teriak Acha kemudian.
Kedua lelaki di lapangan basket sana menengok sekilas ke sumber suara. Seorang gadis tengah duduk di bangku pinggir lapangan sambil memangku sebuah sketsa kecil di pahanya. Kedua lelaki itu kemudian saling pandang dengan tatapan menantang.
“Ayo kita lanjutkan!” seru lelaki yang tadi memasukkan angka.

